Mahasiswa Bidik Misi Makan di Mekdi (2)

Materi-materi matrikulasi yang saya jalani sebenarnya tidak semua membosankan. Beberapa tokoh cukup membuat saya kagum, misalnya Bapak Adriano Rusfi yang bekerja sebagai konsultan di DIKTI. Dia sempat memberikan materi mengenai filsafat hidup yang membuat kami lebih bersyukur karena dapat menimba ilmu di kampus yang sering dibilang mahal oleh kebanyakan orang.  Dari semua materi, menurut saya pada intinya memotivasi kami sebagai mahasiswa dari keluarga yang tidak mampu untuk tetap dapat berprestasi di ITB dan tidak minder terhadap mahasiswa non-BM yang memiliki gaya hidup lebih mewah dari kami.

Hal yang membuat saya agak memicikkan mata justru berasal dari pihak ITB sendiri, lebih spesifiknya yaitu UPT Asrama ITB. Mereka selalu mengingatkan bahwa kami merupakan mahasiswa pilihan dan semestinya bersyukur karena telah diberikan beasiswa. Mereka menghimbau kami untuk belajar sungguh-sungguh dan dapat membanggakan orang tua di rumah dengan IPK diatas rata-rata. Pun demikian di kehidupan asrama, kami ditekankan untuk hal tersebut. Fokus belajar dan belajar dengan mengingatkan bahwa kami merupakan mahasiswa BM. Hati saya seakan berontak mendengar hal tersebut. Apa iya sih kita sebagai mahasiswa yang tidak mampu harus mengikuti semua ini ? Hanya belajar dan tidak mencoba merubah nasib kita dan mungkin keluarga kita mulai sekarang. Saya cukup lama memikirkan hal ini. Bagaimana caranya membuktikan perkataan mereka tidak sepenuhnya benar demikian.

"Hanya belajar dan tidak mencoba merubah nasib mulai sekarang"

Kehidupan saya di awal semester tidak begitu istimewa. Setiap hari saya berjalan kaki dari asrama yang berjarak 2 kilometer dari kampus. Ingin naik angkot pun, kami harus jalan kaki dulu sekitar 300 meter dari asrama dan harus menggunakan 2 angkot jika ingin sampai di ITB. Biaya angkot waktu itu 2000 rupiah sekali jalan, jadi total 4000 yang harus dikeluarkan tiap paginya jika ingin naik angkot. Saya sama sekali tidak tertarik menggunakan angkot, selain biayanya mahal, masih banyak teman yang berjalan kaki. Ada hal yang menarik disini, rekan asrama yang sama-sama penerima BM ternyata ada yang membawa motor. Mulai dari motor kelas menengah hingga kelas kakap. Kelas kakap yang saya maksud yakni motor yang seharusnya tidak dimiliki penerima BM. Bayangkan saja, motor vixion tapi dapat BM. Fakkk (dalam hati). Terbesit rasa iri yang cukup amat sangat waktu itu. Kenapa sih saya harus capek-capek ke kampus jalan kaki 15 menit sedangkan yang lain enak naik motor. Apalagi kalau bangun kesiangan, harus lari full dengan kaki yang kaku setelah tiba di kelas. Saya pun menyampaikan keluhan tersebut ke Ibu saya.

Keluarga saya memiliki 1 buah motor. Itupun dipakai sehari-hari untuk modal berjualan ibu saya di rumah. Tidak mungkin kalau saya membawa motor tersebut ke Bandung, apalagi meminta orang tua saya untuk membelikan motor. Namun waktu itu saya memiliki tabungan hasil lomba saya selama di SMA yang masih bersisa kurang lebih 5 juta. Uang tersebut memang khusus saya rencanakan untuk membeli motor sewaktu kuliah. Namun 5 juta dapat apa ? Mungkin hanya motor bodong tanpa STNK ataupun motor jadul astrea atau kharisma. Lebih baik saya tahan dan menabung lebih untuk mendapatkan motor kelas menengah yang lebih memadai dan nyaman untuk perjalanan jauh.

Alhasil, setiap hari saya berusaha untuk menghemat pengeluaran. Memasak nasi adalah senjata utama waktu itu. Dengan berlauk pauk 5000 beli di warung teh eneng, saya berusaha menghabiskannya dengan 2 kali makan, siang dan malam. Berhari-hari saya jalani hal tersebut dan mencoba untuk menyisihkan uang beasiswa untuk mimpi saya memiliki motor. Ternyata gaya hidup hemat yang saya membuahkan hasil. Saya terserang DBD waktu bulan september, hanya sebulanan setelah kuliah pertama. Mungkin antibodi saya benar-benar lemah karena keadaan yang bisa dibilang kurang gizi. Badan saya memang benar-benar kurus waktu itu.


Selain motor, ada hal lain yang membuat saya iri. Di kamar asrama yang sangat sederhana, hanya ada 1 buah hp android murah dan 1 buah laptop dengan prosesor intel celeron. Laptop yang saya beli waktu kelas XI dengan hasil uang lomba seharga 4 juta waktu itu. Cukup kagum (atau kaget), ada teman BM yang menggunakan laptop core i5 bahkan core i7. Fakk (dalam hati). Dan banyak lagi rasa iri yang membuat saya berusaha memikirkan bagaimana caranya saya memiliki apa yang saya inginkan.

Disinilah awal mula saya mencoba merubah nasib saya (dan keluarga saya) untuk memutar roda ekonomi yang mungkin sedang di bawah waktu itu. Saya berusaha keras untuk mendapatkan pundi-pundi sedini mungkin untuk menunjang kehidupan kampus saya, dan juga ingin mematahkan bahwa mahasiswa BM tidak harus diam saja merenungi nasib dan kekeuh belajar saja (padahal banyak mainnya lho).

Lanjutan awal mula saya usaha bisa dibaca di

http://lucacadalora.blogspot.co.id/2016/08/berani-beda-dengan-berwirausaha-1.html

dan seterusnya

... Bersambung

    Blogger Comment

0 comments:

Posting Komentar