Mahasiswa Bidik Misi Makan di Mekdi (1)

Seperti biasa, malam hari sebelum tertidur saya melihat layar hp feed di aplikasi LINE. Tak sengaja ada melihat ada postingan tentang keluhnya (mungkin) mengenai gaya hidup anak Bidik Misi (BM) yang seharusnya tidak jauh lebih royal dibandingkan dirinya dalam hal ini makan di McDonald. Ya betul toh, anak BM notabene berasal dari keluarga yang tidak mampu sehingga uang yang diterima tidak semestinya digunakan untuk makan yang mahal-mahal. Tentunya ini merupakan stereotype bagi mahasiswa non-BM

Tulisan di bawah semata-mata ingin menjabarkan proses mahasiswa BM yang berjuang untuk mendapatkannya.



Saya berasal dari keluarga yang tidak mampu, secara ekonomi. Namun orang tua saya mendidik saya dengan segala jerih payahnya dengan menyekolahkan dan memberikan tambahan les yang aneh-aneh sejak saya TK. Bermodalkan toko kelontong di salah satu desa di Kabupaten Madiun, menurut saya waktu itu mereka hanya membuang-buang uang dan menyusahkan saya yang harus menambah jadwal kegiatan dimana teman rumah lainnya hanya berkegiatan di sekolah formal saja. 300 ribu rupiah untuk 3 bulan les sempoa pada tahun 2004-an menurut saya sudah sangat mahal. Saya mulai les Sempoa sejak TK nol besar dan berlanjut hingga kelas 3 SD dengan menamatkan 8 level, waktu itu. Beberapa kali saya tanyakan kepada Ibu saya mengapa saya harus les sempoa. "Le, ibuk dari kecil sampai kuliah benci sama yang namanya matematika, kamu harus bisa". Simpelnya, Ibu saya menginginkan saya untuk pandai dalam pelajaran matematika. Selain matematika, saya juga les bahasa inggris dengan alasan yang sama.

Hingga umur saya yang sudah menginjak 20 ini, saya menyadari bahwa yang saya capai sekarang merupakan investasi berharga dari orang tua saya. Lalu, bagaimana keadaan ekonomi keluarga saya sekarang ? Ibu saya masih berjualan di toko kelontongnya dengan hasil yang tidak menentu, laba 20 ribu per hari sudah sangat lumayan baginya untuk saat ini. Ayah saya bekerja sebagai buruh dengan upah 3,5 juta per bulannya. Sedangkan saya sedang menempuh pendidikan di ITB yang notabene bisa menghabiskan biaya yang cukup besar untuk biaya kuliah dan biaya hidup di Bandung. Saya masih ingat waktu akan mendaftarkan diri sebagai peserta SNMPTN, Ibu saya sempat melarang saya untuk masuk ITB karena mendengar rumor dari tempat ia berbelanja bahwa anaknya DO dari ITB karena masalah biaya. Saya sempat bingung untuk menjelaskannya waktu itu, namun saya mencoba meyakinkannya bahwa saya bisa survive disana dan jangan mengkhawatirkan biaya yang bisa membuat saya DO.

Di bangku SMA kelas X saya mendapat beasiswa siswa tidak mampu dari ikatan alumni. Mengapa saya mendapatkannya ? Karena orang tua saya terbilan tidak mampu untuk membiayai saya sekolah dengan SPP 300 ribu per bulannya. Kelas XI beasiswa saya dicabut, namun saya bisa menutupnya dengan uang hasil kerja keras saya mengikuti berbagai lomba. Kelas XII saya mendapat beasiswa dari prestasi saya yang diapresiasi oleh pihak sekolah sehingga biaya yang telah dikeluarkan, dikembalikan penuh satu tahun (padahal sering nunggak). Bermodalkan hal tersebut saya meyakinkan Ibu saya bahwa saya akan mendapatkan beasiswa juga waktu kuliah, minimal beasiswa untuk keluarga tidak mampu atau beasiswa karena prestasi.

Sampailah saya di gerbang depan ITB, dengan beasiswa yang belum pasti. Saya terpilih sebagai kandidat penerima beasiswa BM yang digelontorkan oleh KemenristekDikti. Kandidat.. Ya. Akhir bulan Mei saya dan ratusan kawan lainnya diharuskan mengikuti Matrikulasi BM yang diadakan oleh UPT Asrama ITB selama kurang lebih 2 minggu. Kegiatan saya jalani dengan penuh keluhan. Jujur saja kegiatannya membosankan karena diharuskan mendengarkan seminar dari berbagai tokoh dari jam 9 pagi hingga 3 sore. Belum lagi tugas-tugas yang diberikan. Matrikulasi pun selesai, beasiswa BM yang diiming-imingkan belum ada kepastian. Masih ada tahap lain yaitu wawancara. Disini saya merasa deg-degan kalau saja saya tidak mendapatkan beasiswa ini, bagaimana nasib saya hidup di Bandung nantinya. 

Hari wawancara pun tiba. Saya wawancara di ruang 19 Lembaga Kemahasiswaan. Saya sempat menanyakan ke rekan saya tips untuk menghadapi wawancara, mulai dari cara berpakaian dan persiapan mimik muka. Saya mengenakan kaos kebanggaan saya waktu itu, kaos berkerah merk reebok yang saya beli waktu diskon buy 1 get 1 di sport station, itupun iuran dengan teman saya. Memasuki ruangan, petugas yang akan mewawancarai saya mengatakan saya tampil terlalu santai, disini saya mulai sangat takut. Petugas menanyakan dan mengklarifikasi data keluarga saya dan saya jawab sejujurnya. Setelah selesai, petugas tersebut kembali membuat saya senam jantung. Dia mempermasalahkan baju yang saya pakai. Orang tidak mampu seharusnya ya tidak memakai reebok. Kan banyak kemeja yang lebih bagus di pasar, tidak perlu mahal-mahal. Dengan muka tertekuk saya keluar ruangan dan merenungi hal tersebut

"Orang tidak mampu seharusnya ya tidak memakai reebok"

Hari pengumuman pun tiba. Alhamdulillah saya diterima sebagai mahasiswa yang mendapatkan beasiswa BM dengan UKT 0 rupiah dan tambahan uang saku 950 ribu per bulannya. Hati saya waktu itu senang sekali karena telah berhasil menepati janji kepada ibu saya untuk dapat berkuliah dengan gratis tanpa beban sedikitpun untuk keluarga. Beasiswa BM ini tidak terlalu berat karena mensyaratkan harus mempertahankan IP atau IPK diatas 2,5. Menurut saya waktu itu sih gampang, ternyata susah juga.

"Saya diterima sebagai mahasiswa BM"

... Bersambung

    Blogger Comment

0 comments:

Posting Komentar